Oleh:
Muhammad Arif, S.H.I.
(Ketua PW Pemuda PERTI Sumatera Barat)
Pertisumbar.com – Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali merayakan kemerdekaan. Bendera Merah Putih dikibarkan, lagu Indonesia Raya dinyanyikan, dan kisah perjuangan para pahlawan kembali memenuhi ruang publik. Namun, setelah delapan dekade Indonesia merdeka, ada pertanyaan yang barangkali lebih penting daripada sekadar bertanya siapa yang telah memperjuangkan kemerdekaan, yaitu pertanyaan: Untuk apa kemerdekaan itu diperjuangkan, dan apa yang kita lakukan agar kemerdekaan tetap memiliki makna?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting bagi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), sebuah organisasi yang memiliki akar kuat dalam tradisi pendidikan Islam dan keulamaan Minangkabau, dan pada masa revolusi juga mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan Republik. PERTI memiliki sejarah yang jarang dibicarakan secara proporsional dalam narasi kebangsaan.
Lasykar Muslimin dan Muslimat Indonesia (Lasymi).
Pada tanggal 24 Desember 1945, hanya beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, PERTI mendirikan Lasymi dalam Kongres IV PERTI di Bukittinggi. Syekh Sulaiman ar-Rasuli menjadi tokoh penting di balik pembentukannya, sementara Sofyan Siraj ditunjuk sebagai komandan. Setengah tahun kemudian, pada 23 Juni 1946, PERTI melantik Lasykar Muslimat sebagai wadah perjuangan perempuan PERTI.
Sejumlah catatan menyebut kekuatan Lasymi mencapai sekitar 50.000 orang. Angka itu bukan sekadar statistik, tetapi adalah gambaran mengenai besarnya energi sosial yang pernah dimiliki umat, ulama, santri dan jamaah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dalam mempertahankan Republik. Dan dari sinilah kita perlu membaca kembali makna kemerdekaan bagi PERTI.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia bukanlah sebuah peristiwa yang selesai pada 17 Agustus 1945. Proklamasi menyatakan kemerdekaan, tetapi perjuangan setelahnya menentukan apakah kemerdekaan itu dapat dipertahankan.
Republik yang baru lahir menghadapi ancaman kembalinya kolonialisme. Dalam kondisi tersebut, masyarakat tidak memiliki kemewahan untuk bersikap sebagai penonton. Mereka harus memilih: menjadi bagian dari perjuangan atau membiarkan kemerdekaan kembali dirampas. PERTI memilih untuk mengambil bagian. Pilihan tersebut penting dibaca dalam konteks sejarah organisasi.
PERTI lahir dan tumbuh dari dunia pendidikan Islam. Basis sosialnya adalah surau, Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), ulama, guru dan murid. Namun ketika bangsa berada dalam keadaan genting, pendidikan tidak berhenti sebagai proses transfer ilmu. Tarbiyah berubah menjadi pengabdian, Ilmu melahirkan keberanian, Akidah melahirkan tanggung jawab, dan kecintaan kepada agama menemukan bentuk konkretnya dalam kecintaan kepada tanah air. Di sinilah Lasymi mendapatkan makna historisnya. Lasymi bukan sekadar sebuah laskar bersenjata, Lasymi adalah bukti bahwa Tarbiyah Islamiyah dapat melahirkan kesadaran kebangsaan dan keberanian untuk mempertahankan negara.
Lasymi: Nasionalisme yang Berakar pada Keislaman
Dalam perdebatan kontemporer, agama dan nasionalisme kadang dipertentangkan seolah-olah keduanya berada pada dua kutub yang berbeda. Sejarah PERTI memberikan pelajaran yang berbeda. Pembentukan Lasymi memperlihatkan bahwa keislaman dan kebangsaan dapat berjalan dalam satu orientasi pengabdian.
Bagi generasi PERTI, ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi merupakan warisan pemikiran. Bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti menjauh dari persoalan kebangsaan. Sebaliknya, nilai-nilai keislaman dapat menjadi sumber etika untuk membangun kehidupan kebangsaan yang adil, bermartabat dan beradab.
Begitu pula nasionalisme tidak harus kehilangan akar moralnya. Cinta tanah air tidak boleh berubah menjadi fanatisme buta. Nasionalisme harus tetap diarahkan kepada terciptanya keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan.
Dalam konteks itulah Lasymi dapat dipahami sebagai salah satu bentuk nasionalisme yang berakar pada nilai keagamaan.
Perempuan PERTI Tidak Berdiri di Pinggir Sejarah
Ada satu aspek lain yang jauh lebih penting untuk diingat, bahwa pada 23 Juni 1946, PERTI melantik Lasykar Muslimat sebagai wadah perjuangan perempuan PERTI. Fakta ini menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam sejarah perjuangan PERTI. Mereka adalah bagian dari subjek sejarah.
Dalam banyak pengalaman revolusi, perempuan menjalankan berbagai fungsi penting: mendukung logistik, pelayanan kesehatan, komunikasi, mobilisasi sosial, dapur umum dan berbagai bentuk pengabdian lainnya.
Oleh sebab itu, sejarah Lasykar Muslimat mengajarkan bahwa perjuangan bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang senjata. Ada perjuangan yang berlangsung di garis depan. Ada pula perjuangan yang memastikan garis depan tetap dapat bertahan. Dan keduanya sama-sama penting.
Pelajaran tersebut relevan bagi PERTI hari ini. Perempuan (baca: Persatuan Wanita Tarbiyah Islamiyah (PERWATI) tidak boleh ditempatkan hanya sebagai pelengkap struktur organisasi atau pelaksana kegiatan seremonial. Perempuan PERTI (PERWATI) harus menjadi kekuatan strategis dalam pendidikan, ekonomi, dakwah, penguatan keluarga, perlindungan anak dan pembangunan masyarakat.
Lima Puluh Ribu Orang Lasykar: Sebuah Pelajaran tentang Kekuatan Sosial
Sejumlah catatan menyebut jumlah anggota Lasymi mencapai sekitar 50.000 orang. Kita tentu perlu berhati-hati dalam memperlakukan angka sejarah, karena metode pencatatan keanggotaan pada masa revolusi berbeda dengan standar administrasi organisasi modern. Namun angka tersebut tetap memiliki arti penting, angka tersebut menunjukkan bahwa PERTI pernah memiliki kemampuan mobilisasi sosial yang sangat besar.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata: Bagaimana PERTI dahulu dapat menghimpun puluhan ribu pejuang? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Mengapa mereka bersedia bersatu? Jawabannya tidak hanya karena adanya struktur organisasi; dibalik itu ada kepercayaan, ada jaringan sosial, ada otoritas ulama, ada hubungan guru dan murid, ada surau dan MTI, ada rasa senasib, dan yang paling penting adalah: ada tujuan perjuangan yang diyakini bersama. Inilah modal sosial yang sering kali lebih kuat daripada sekadar struktur formal.
Sebuah organisasi dapat memiliki kantor, pengurus dan program kerja. Tetapi tanpa kepercayaan dan cita-cita bersama, struktur itu akan menjadi administratif belaka. PERTI pada masa revolusi memiliki sesuatu yang lebih besar, yaitu daya juang kolektif.
Ketika Organisasi Harus Mendahulukan Negara
Perjalanan Lasymi kemudian memasuki fase baru ketika laskar tersebut dilebur ke dalam Tentara Nasional Indonesia. Di sini terdapat pelajaran yang sangat penting tentang hubungan organisasi dan negara. Lasymi tidak dibangun untuk menjadi kekuatan yang berdiri di atas negara, Lasymi hadir untuk membantu mempertahankan Republik.
Ketika kebutuhan negara berubah dan proses integrasi tentara nasional berlangsung, kekuatan tersebut menjadi bagian dari TNI. Pesannya jelas: Kepentingan negara berada di atas kepentingan organisasi. Prinsip ini terasa semakin relevan hari ini. Organisasi kemasyarakatan Islam harus memiliki identitas dan independensi, tetapi tidak boleh kehilangan orientasi kebangsaan. Kepentingan organisasi tidak boleh selalu ditempatkan di atas kepentingan publik. Apalagi menjadikan organisasi sebagai kendaraan bagi kepentingan pribadi. Sejarah Lasymi justru mengajarkan kebalikannya: organisasi adalah instrumen untuk mengabdi kepada kepentingan yang lebih besar.
Dari Penjajahan Fisik ke Penjajahan Baru
Delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan, Indonesia tentu tidak lagi menghadapi kolonialisme dalam bentuk klasik. Tidak ada pasukan kolonial yang secara terbuka menguasai kota-kota kita. Tetapi kemerdekaan selalu memiliki tantangan baru. Hari ini anak-anak muda menghadapi narkoba, mereka berhadapan dengan perjudian daring, budaya konsumtif, banjir informasi dan disinformasi, krisis karakter, ketimpangan ekonomi dan sulitnya mobilitas sosial. Mereka juga menghadapi teknologi yang dapat menjadi instrumen kemajuan sekaligus jebakan ketergantungan. Bentuknya berbeda dengan kolonialisme, tetapi substansinya memiliki satu kesamaan: manusia dapat kehilangan kebebasannya ketika ia kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya sendiri.
Orang yang kecanduan narkoba kehilangan kebebasan, orang yang diperbudak perjudian kehilangan kebebasan, orang yang tidak mampu berpikir kritis mudah dimanipulasi. Masyarakat yang tidak memiliki kemandirian ekonomi mudah bergantung kepada pihak lain. Oleh karena itu, mempertahankan kemerdekaan hari ini tidak cukup dilakukan melalui pertahanan militer, tetapi harus dilakukan melalui pendidikan, ekonomi, kebudayaan, moral dan penguatan karakter.
Inilah “Lasymi” Generasi Sekarang
Kita tidak membutuhkan Lasymi dalam bentuk laskar bersenjata, tetapi kita membutuhkan semangat Lasymi. Jika dahulu senjata digunakan menghadapi kolonialisme, hari ini ilmu pengetahuan harus digunakan menghadapi kebodohan. Jika dahulu barisan perjuangan bergerak mempertahankan wilayah Republik, hari ini kader PERTI harus bergerak mempertahankan masa depan generasi Republik.
Jika dahulu keberanian dibutuhkan untuk menghadapi musuh bersenjata, hari ini keberanian moral dibutuhkan untuk mengatakan tidak terhadap narkoba, korupsi, perjudian, kekerasan, ketidak adilan dan berbagai bentuk kerusakan sosial.
Jika dahulu Lasykar Muslimat berdiri bersama pejuang, hari ini Perempuan PERTI (PERWATI) harus berada di garis depan membangun keluarga dan generasi yang berkualitas.
Dengan demikian, Lasymi tidak harus dihidupkan kembali sebagai sebuah laskar, yang harus dihidupkan kembali adalah etos perjuangannya. Etos pengorbanan, Etos kedisiplinan, Etos keberanian, Etos persatuan, dan Etos mendahulukan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Dari Tarbiyah Menuju Peradaban
Di sinilah sesungguhnya PERTI memiliki relevansi yang besar. Nama Tarbiyah Islamiyah mengandung sebuah tugas yang tidak pernah selesai: yakni “mendidik manusia”. Tetapi pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang mengetahui. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu melakukan. Tidak cukup mencetak orang yang pandai berbicara tentang akhlak tetapi tidak berakhlak. Tidak cukup mencetak orang yang pandai berbicara tentang kemandirian tetapi selalu bergantung pada orang lain. Tidak cukup mencetak kader yang hafal sejarah perjuangan tetapi tidak memiliki keberanian meneruskan perjuangan. Tarbiyah Islamiyah harus melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri dan bermanfaat.
Jika prinsip itu berhasil diwujudkan, maka PERTI tidak hanya mempertahankan tradisi. PERTI sedang membangun peradaban.
Merdeka Juga Berarti Mandiri
Ada satu agenda yang menurut saya harus menjadi perhatian serius PERTI: yaitu kemandirian ekonomi organisasi dan umat. Organisasi yang ingin memiliki independensi moral harus memiliki fondasi ekonomi yang sehat.
Kerja sama dengan pemerintah, politisi, pengusaha dan berbagai kelompok masyarakat tentu diperlukan. Namun kerja sama berbeda dengan ketergantungan. PERTI harus berani membangun sumber daya ekonominya sendiri. Koperasi Syariah harus dikembangkan, Wakaf produktif harus diperkuat, Filantropi Islam harus dikelola secara profesional, Jaringan kader dan jamaah harus menjadi kekuatan ekonomi. Badan usaha organisasi harus dibangun secara transparan dan profesional.
Generasi muda PERTI harus didorong menjadi pengusaha, profesional dan inovator. Sebab pada akhirnya, kemandirian ekonomi adalah salah satu prasyarat bagi kemandirian sikap. Kita tidak boleh hanya mewarisi semangat perjuangan para pendahulu tanpa mewarisi keberanian mereka untuk membangun kekuatan sendiri.
Jangan Warisi Romantismenya, Warisi Tanggung Jawabnya
Organisasi yang memiliki sejarah panjang selalu menghadapi satu bahaya: terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita mudah bangga ketika menyebut nama para ulama. Kita bangga dengan sejarah MTI, Kita bangga dengan Lasymi, Kita bangga dengan Lasykar Muslimat. Tetapi kebanggaan sejarah menjadi tidak produktif apabila tidak melahirkan keberanian untuk menjawab persoalan hari ini.
Oleh karena itu, tugas generasi PERTI bukan sekadar menjaga agar nama Lasymi tetap disebut. Tugas kita adalah memastikan nilai-nilai yang melahirkan Lasymi tetap hidup.
Dahulu barangkali para lasykar Lasymi bertanya: Apa yang harus kami lakukan agar Republik tetap berdiri? Hari ini kita harus bertanya: Apa yang harus kami lakukan agar Republik yang telah berdiri ini menjadi bangsa yang maju, adil, berdaulat dan beradab? Pertanyaan kedua mungkin tidak kalah beratnya. Bahkan dalam beberapa hal, lebih kompleks.
Dari 50.000 Pejuang Menuju Jutaan Kader Berdaya
Bayangkan jika semangat kolektif yang dahulu melahirkan puluhan ribu anggota Lasymi dapat diterjemahkan ke dalam gerakan pendidikan dan ekonomi hari ini. Bukan lagi 50.000 orang yang bergerak dengan senjata. Tetapi puluhan ribu kader yang bergerak dengan ilmu. Puluhan ribu guru yang mendidik. Puluhan ribu pemuda yang berwirausaha. Puluhan ribu perempuan yang memperkuat keluarga dan ekonomi umat. Puluhan ribu alumni MTI yang kembali membangun Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Puluhan ribu kader yang hadir menyelesaikan persoalan masyarakat. Itulah barangkali bentuk perjuangan yang relevan bagi kader PERTI abad ke-21 ini.
Senjata kita adalah ilmu, benteng kita adalah akhlak, kekuatan kita adalah persatuan, dan kemerdekaan kita harus menghasilkan kemandirian.
Khatimah: Kemerdekaan sebagai Amanah
Pada akhirnya, sejarah Lasymi mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: Kemerdekaan bukan hadiah untuk dinikmati, tetapi Kemerdekaan adalah amanah untuk dijaga.
Para pendahulu PERTI telah memberikan contoh bagaimana organisasi keagamaan dapat berdiri di tengah persoalan kebangsaan. Mereka tidak bertanya apa yang akan mereka dapatkan dari Republik. Mereka bertanya apa yang dapat mereka berikan kepada Republik.
Di situlah letak perbedaan antara organisasi yang sekadar ingin bertahan hidup dengan organisasi yang memiliki misi sejarah.
Hari ini Indonesia tidak membutuhkan kita untuk mengangkat senjata seperti generasi Lasymi. Indonesia membutuhkan kita untuk mengangkat ilmu, Membangun sekolah, Menghidupkan surau, Membina generasi, Membangun ekonomi umat, Memperkuat keluarga, Melindungi Perempuan dan anak-anak, Menciptakan lapangan pekerjaan, Memproduksi gagasan, dan yang tidak kalah penting adalah menghadirkan Islam sebagai sumber nilai yang menegakkan keadilan, ilmu pengetahuan, akhlak dan kemanusiaan.
Oleh Karena itu, bagi PERTI pertanyaan tentang kemerdekaan bukan lagi sekadar: “Siapa yang dahulu berjuang untuk Republik?” Sejarah telah memberikan jawabannya. Pertanyaan kita sekarang adalah: “Apakah kita cukup layak menerima warisan perjuangan itu?” Dahulu Lasymi membela Republik, Kini saatnya PERTI membela masa depan bangsa. Bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu. Bukan dengan fisik, tetapi dengan pemikiran/gagasan (pendidikan). Bukan dengan ketergantungan, tetapi dengan kemandirian. Dan bukan dengan romantisme sejarah, tetapi dengan keberanian untuk melanjutkan perjuangan.
Sebab sebuah generasi tidak dinilai dari seberapa sering ia mengingat sejarah, tetapi dari seberapa sungguh-sungguh ia mampu melanjutkan nilai yang diperjuangkan oleh sejarah tersebut.
Wallahu Waliyyuttaufik…




