Menjelang Satu Abad, PERTI Konsolidasikan Basis Gerakan di Sumatera Barat

PADANG — Menjelang satu abad perjalanan organisasi pada 2028, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) memperkuat konsolidasi basis gerakan di Sumatera Barat. Ketua Umum Pimpinan Pusat PERTI H.M. Syarfi Hutahuruk, M.M. menjalani rangkaian agenda di sejumlah titik yang merepresentasikan kehidupan Tarbiyah Islamiyah, mulai dari pesantren, surau suluk, jamaah, tradisi tarekat dan tasawuf, jejak ulama, pendidikan Al-Qur’an, pengembangan ekonomi hingga struktur organisasi. Rangkaian kegiatan pada 22–24 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah, pemeliharaan identitas Tarbiyah Islamiyah, konsolidasi organisasi dan persiapan menuju Milad satu abad PERTI pada 2028.

Dalam kunjungan tersebut, Syarfi didampingi Ketua Bidang Tarikat dan Tasawuf PP PERTI Dr. Aldomi Putra, M.A., bersama jajaran PD PERTI Sumbar. Turut mendampingi Ketua PD PERTI Sumbar H. Afrizal Moetwa, M.A., Ketua PW Pemuda PERTI Sumbar yang juga Sekretaris PD PERTI Sumbar Muhammad Arif, S.H.I., Ustadz Darno Efendi, M.Pd., Dt. Sohiah Nan Itam Anggota Majelis Pembina PERTI Sumbar, serta Wakil Ketua PD PERTI Sumbar sekaligus Ketua LAZISWAF PERTI Feri Irawan, S.Ag., M.E.

Rangkaian kegiatan dimulai Sabtu, 22 Agustus 2026, di Pondok Pesantren Berbasis Surau Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, pimpinan Dr. Harmen Hadi, S.H.I., M.Hum. Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan HUT Kemerdekaan RI ke-81 diikuti santri, pengasuh pesantren dan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, Dr. Aldomi Putra memimpin zikir dan doa, sedangkan Ustadz Darno Efendi menyampaikan tausiah mengenai penguatan amaliah Ahlussunnah wal Jamaah dan identitas Tarbiyah Islamiyah.

Malam harinya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Surau Suluk Nur Mutmainnah, Nagari Koto Tangah, Payakumbuh, untuk menghadiri Haul Syekh Bahauddin Naqsyaband. Surau tersebut memiliki makna khusus dalam perjalanan spiritual Syarfi Hutahuruk karena menjadi salah satu tempat pelaksanaan suluk. Kehadiran Ketua Umum PP PERTI di tengah jamaah suluk memperlihatkan keterhubungan organisasi dengan tradisi tarekat dan tasawuf yang merupakan bagian dari identitas Tarbiyah Islamiyah.

Ahad, 23 Agustus 2026 atau 10 Rabiul Awal 1448 H, rombongan bergerak ke Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di atas tanah wakaf PERTI digelar Tabligh Akbar dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan doa bersama untuk rencana pembangunan Masjid Raya PERTI. Rencana pembangunan tersebut menjadi bagian dari pengembangan sarana keumatan yang diarahkan untuk menunjang ibadah, dakwah, pendidikan
dan pembinaan jamaah.

Setelah kegiatan di Sarilamak, rombongan berziarah ke makam Buya Syekh Nu’m​an Basyir di Payakumbuh, salah seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah, kemudian melanjutkan ziarah ke makam Syekh Sulaiman Arrasuli atau Inyiak Canduang, tokoh sentral dalam sejarah pendirian PERTI. Rangkaian ziarah tersebut menempatkan sejarah keulamaan sebagai bagian dari perjalanan organisasi menuju satu abad sekaligus menghubungkan kembali tradisi keilmuan dengan agenda kaderisasi generasi berikutnya.

Dari makam Inyiak Canduang, rombongan singgah di rumah tahfiz yang dikelola Ustadz Darno Efendi, M.Pd., Dt. Sohiah Nan Itam, salah seorang kader Dai Muda PERTI Sumbar. Rumah tahfiz tersebut menggabungkan pendidikan Al-Qur’an dengan pengembangan kuliner tradisional, dengan lingkungan yang dilengkapi kebun bunga, tanaman buah, stroberi dan sayuran. Model tersebut memperlihatkan ruang pengabdian kader yang lebih luas, ketika dakwah dan pendidikan berjalan bersama kewirausahaan. Bagi PERTI, pola seperti ini menjadi salah satu gambaran kebutuhan kaderisasi generasi berikutnya: kader yang memiliki kapasitas keagamaan sekaligus kemampuan mengelola lembaga, mengembangkan usaha dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

Ketua Umum PP PERTI H.M. Syarfi Hutahuruk mengatakan momentum satu abad harus ditempatkan sebagai agenda konsolidasi organisasi, bukan sekadar peringatan sejarah. “PERTI memasuki fase penting menjelang satu abad. Momentum ini tidak cukup diperingati dengan kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali basis gerakan. Pesantren, madrasah, surau, jamaah, ulama dan kader merupakan kekuatan yang harus terhubung dengan struktur organisasi,” kata Syarfi. Menurut dia, kerja organisasi harus memiliki hubungan langsung dengan kehidupan umat. “Organisasi harus hadir di tengah umat, mengetahui persoalan jamaah, memperkuat pendidikan, mengembangkan dakwah dan memastikan kader memiliki ruang untuk bekerja. Dengan cara itu, PERTI tidak hanya memiliki sejarah yang panjang, tetapi juga memiliki kekuatan sosial keagamaan yang nyata.” Syarfi menegaskan, warisan ulama pendiri harus diteruskan melalui kerja organisasi dan kaderisasi. “Menuju satu abad, kita ingin membangun PERTI yang lebih terkonsolidasi, lebih mandiri dan lebih kuat basisnya. Warisan para ulama harus diteruskan melalui kerja nyata dan kaderisasi yang berkelanjutan.”

Ketua PD PERTI Sumbar H. Afrizal Moetwa, M.A., mengatakan Sumatera Barat memiliki jaringan pesantren, madrasah, surau, jamaah dan tokoh ulama yang memiliki hubungan kuat dengan perjalanan Tarbiyah Islamiyah. “Potensi tersebut perlu dikonsolidasikan agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Kehadiran Ketua Umum PP PERTI di berbagai basis menjadi momentum memperkuat hubungan antara struktur organisasi dengan pesantren, surau, jamaah dan kader. Konsolidasi pusat dan daerah harus menghasilkan kerja yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Afrizal.

Konsolidasi berlanjut pada Senin, 24 Agustus 2026 siang melalui rapat PP PERTI bersama PD PERTI Sumbar di Sekretariat PD PERTI Sumbar, Jalan Pramuka IV Nomor 2, Kelurahan Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Perkembangan organisasi, program dakwah, pembinaan jamaah, kaderisasi dan koordinasi pusat-daerah menjadi materi pembahasan. Persiapan Milad satu abad PERTI pada 2028 juga menjadi bagian dari agenda pertemuan. Forum tersebut sekaligus mempertemukan agenda PP PERTI dengan dinamika organisasi di tingkat daerah, termasuk kebutuhan memperkuat basis dan menyiapkan generasi penerus.

Ketua PW Pemuda PERTI Sumbar yang juga Sekretaris PD PERTI Sumbar, Muhammad Arif, S.H.I., mengatakan agenda menuju satu abad perlu diterjemahkan dalam kerja kader di lapangan. “Konsolidasi PERTI tidak boleh berhenti pada struktur kepengurusan. Kekuatan organisasi harus terlihat dari kehidupan pesantren, aktivitas surau, pembinaan jamaah, keberadaan kader dan kemampuan lembaga-lembaga PERTI memberikan manfaat kepada masyarakat,” kata Arif. Menurut dia, kaderisasi bukan sekadar mempersiapkan orang untuk mengisi kepengurusan. “Kaderisasi harus mempersiapkan generasi yang mampu mengelola dakwah, pendidikan, organisasi dan kemandirian ekonomi umat.” Arif juga menempatkan generasi muda sebagai bagian dari pelaku organisasi saat ini. “Generasi muda tidak cukup hanya dipersiapkan untuk meneruskan kepemimpinan. Generasi muda harus diberi ruang untuk melakukan kerja-kerja keumatan dan mengambil tanggung jawab organisasi. Di situlah proses regenerasi berjalan secara nyata.”

Rangkaian kegiatan ditutup Senin malam dengan menghadiri Milad ke-35 Pondok Pesantren Darul Ulum, pimpinan Buya Tgk. Darmis Muar, di Masjid Al Amin Pondok Pesantren Darul Ulum, Lubuk Minturun, Padang. Kegiatan tersebut dirangkai dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan HUT Kemerdekaan RI ke-81. Kehadiran dalam peringatan milad pesantren tersebut melengkapi rangkaian kunjungan yang sejak awal mempertemukan struktur PERTI dengan lembaga pendidikan dan basis keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.

Selama tiga hari, rangkaian kunjungan Ketua Umum PP PERTI tersebut melewati sejumlah simpul kehidupan Tarbiyah Islamiyah di Sumatera Barat: pesantren, surau suluk, jamaah, tradisi tarekat dan tasawuf, makam ulama, pendidikan Al-Qur’an, kader muda, pengembangan ekonomi, aset keumatan dan struktur organisasi. Masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat. Pesantren mendidik santri, surau membina jamaah, tradisi tarekat dan tasawuf menjaga salah satu identitas keagamaan Tarbiyah Islamiyah, ulama menjadi mata rantai keilmuan, kader menggerakkan dakwah dan pendidikan, sementara struktur organisasi menghubungkan berbagai potensi tersebut dalam agenda bersama.

Dalam konteks menuju satu abad, rangkaian tersebut menunjukkan bahwa agenda PERTI tidak berhenti pada penyelenggaraan peringatan Milad 2028. Satu abad menjadi momentum untuk menata kembali fondasi gerakan, memperkuat hubungan pusat dan daerah, menghidupkan basis pesantren dan surau, memperluas kaderisasi, memperkuat kemandirian lembaga serta memastikan kesinambungan tradisi Tarbiyah Islamiyah di tengah perubahan zaman.

PERTI memiliki sejarah panjang yang dibangun oleh ulama, pesantren, madrasah, surau dan jamaah. Tantangan memasuki abad kedua adalah memastikan seluruh warisan tersebut tidak berhenti sebagai sejarah, tetapi berkembang menjadi kekuatan sosial yang hidup melalui lembaga, kader dan kerja nyata di tengah masyarakat. Dalam kerangka itu, konsolidasi basis menjadi agenda strategis yang menentukan arah PERTI setelah satu abad perjalanan.

Dari Sumatera Barat, pesan yang dibawa rangkaian kunjungan tersebut cukup jelas: kebangkitan PERTI tidak dibangun hanya dari struktur di atas, tetapi dari basis yang hidup di tengah umat—pesantren, surau, jamaah, ulama dan kader. Ketika basis tersebut terkonsolidasi dan terhubung dengan organisasi, PERTI memiliki modal sosial yang kuat untuk memasuki abad kedua Tarbiyah Islamiyah dan memainkan peran yang semakin berarti dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles